Header image

Pemuda-Pemuda Sakti Tumbal Bharata Yudha

Posted by Hengky in Opini

Kalo ditanya tentang sebenarnya tokoh sakti dalam Mahabharata itu golongan tua, agak tua alias umur-umur 40-an, muda atau malah bocah jawabnya tentu saja pemuda. Ya, dalam berbagai cerita tentu tokoh pemuda identik dengan pahlawan, mempunyai kepandaian tertinggi, tengoklah Yoko Tayhiap atau Thio Bu Kie, atau Liok Siau Hong, eh kok malah jadi cerita silat.

Dalam cerita wayang, setelah berakhirnya  Bharata  Yudha  tidak ada  satupun pemuda putra Pandawa yang hidup alias mati semua. Memang amat sangat disayangkan ketika Arjuna diberi kesempatan untuk meminta keselamatan saat perang Bharata Yudha oleh Dewa, dia hanya bilang “Semoga Pandawa diberi keselamatan”. Nah, Kresna yang ada di sampingnya kaget, “bagaimana dengan anak-anak Pandawa?”. Itulah ironisnya dunia wayang, doa kagak bisa diulang lagi, kagak bisa di-rewind, Dewa juga kagak bisa memilihkan yang paling baik bagi manusianya. Ya sudah, semua anak Pandawa mati saat perang Bharata Yudha, melahirkan cerita-cerita kepahlawanan segenap tokoh seperti Abimanyu dan Ghatotkaca, atau tipu daya licik penjagalan segenap putra dan sahabat pandawa di akhir perang.

Kembali ke kalimat pertama cerita ini, siapakah pemuda yang dimaksud. Tentunya kita ingat cerita Wisanggeni, Antareja dan Antasena. Tiga pemuda itu putra Arjuna (Wisanggeni) dan Bima (Antareja dan Antasena). Dikatakan paling sakti karena tidak ada satupun tokoh dunia pewayangan yang dapat mengalahkan mereka, mulai dari dewa sampe manusia. Tetapi mereka mati muda, menjadi tumbal perang, kemenangan bagi bapak-ibu mereka, dan iklhas menyatakan bahwa cerita Mahabharata adalah cerita-nya Pandawa, kemengangannya ya kemenganan Pandawa. Wisanggeni dan Antasena, dua orang ini mengikuti jejak Sang Hyang Wenang, ikut mukso, hilang wadag/tubuh pindah ke dimensi lain, sama seperti Nagaraja setelah memberikan ajian Gineng kepada Anglingdharma.

Wisanggeni adalah bocah yang lahirnya pre-mature, cucu dewa Brahma, putra dari Dresanala dan ARJUNA (Anak Rebutan JUtaan noNA). Dresanala, sesuai namanya DRESANALA (Dara REsah SAat arjuNA LAri). Ya, sejak Arjuna lari dari kayangan setelah membantu Dewata membunuh satu raksasa yang aku lupa namanya. Dresanala resah karena dia sudah berbadan dua, kemarahan Bapaknya membuat anaknya lahir, terus dimasukkan kawah Candradimuka, jadilah ksatria dan diberi nama Wisanggeni.

Antasena dan Antareja juga begitu banyak diceritakan dalam dunia wayang, walaupun punya kesaktian nggegirisi. Ibu mereka adalah Urang Ayu dan Nagagini, dua putri tokoh dewa penghuni lautan dan tanah/bumi. Makanya Antasena bisa menyelam dalam laut, Antareja bisa amblas dalam bumi. Tapi ga itu aja, mereka ahli memainkan bisa/racun. Bahkan konon katanya hanya dengan meludahi jejak kaki lawannya, Antareja bisa membunuh sang lawan.

Intinya, sesakti apapun mereka, tetep saja mati, tidak dibolehkan ikut perang Bharata Yudha, karena mengganggu konsep keadilan perang, ga akan ada yang mampu mengalahkan mereka. Sama aja menantang Bu Kek Siansu maen silat, atau nantang Tokko Kyu-Pai maen ilmu pedang. Ketika Wisanggeni dan Antasena bertanya pada Sang Hyang Wenang, dengan cara apa mereka bisa membela Pandawa. Sang hyang Wenang bilang dengan cara, mati. Ya mereka rela mati, ikut mukso dengan Sang Hyang Wenang. Sedangkan Antareja disuruh menjilat kaki sendiri oleh Kresna, dan matilah mereka. Sekarang, apakah cerita ini cuman berhenti disini. Tidak, dalam setiap cerita wayang, sejarah selalu membuktikan bahwa pemuda yang rela mati untuk kemenangan, sesuatu yang berharga, adalah pahlawan-pahlawan sejati. Mereka memulai gerakan pembaharuan, termasuk ketiga tokoh wayang tersebut. Satu kesamaan mereka adalah mereka tidak bisa berbahasa halus dengan siapapun, golongan dewa atau manusia, bapak-ibu-Pakdhe. Dari sini bisa kita lihat ciri khas pemuda yang sakti dan tanpa pandang bulu, semua dianggap sama. Harus diakui cerita wayang erat kaitannya dengan tata-adat dan culture, yang muda berbahasa halus dengan yang tua, tapi 3 tokoh tadi mengajarkan kesamaan, tanpa pandang bulu.

Matinya semua anak Pandawa ga usah disesalkan, emang gitulah cerita wayang, begitulah pemuda-pahlawan bangsa membela kebenaran dan tanah airnya. Sama juga dengan gugurnya ribuan pemuda bangsa kita dalam merebut kemerdekaan, ga usah disesalkan karena itulah jalan pedang menuju kemuliaan. Yang jadi pertanyaan pada hari pahlawan ini adalah, sudahkah kemuliaan dengan pengorbanan para pemuda tu kita, bangsa Indonesia miliki? Mungkin juga para pahlawan kita, juga bertanya dengan cara apa mereka bisa merebut kemerdekaan dan berdiri gagah sebagai bangsa, jawabnya mati. Sama nasibnya seperti pemuda-pemuda putra Pandawa yang melahirkan cerita-cerita seru yang ga akan habis dibahas saat ngopi dan makan di angkringan, ga kalah seru dengan cerita ala Ching Yung dan perangnya Middle-Earth, pahlawan kita hanya tau mati tanpa tahu rasanya sebuah kemuliaan dan kemenangan.

Penulis: Nur Arfian

Seorang penikmat cerita wayang.

 

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>